portal kabar – Ada momen langka dalam politik Indonesia ketika seorang pemimpin memilih mundur bukan karena kalah, bukan karena tekanan, melainkan justru di puncak kejayaannya. Itulah yang kini dilakukan Ace Hasan Syadzily, ketika ia memutuskan untuk tidak kembali mencalonkan diri dalam Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Jawa Barat.
Keputusan itu mengejutkan banyak pihak. Bagaimana tidak, di bawah kepemimpinannya, Golkar Jawa Barat baru saja mencatatkan salah satu hasil terbaik sepanjang sejarahnya pada Pemilu 2024. Kursi DPR RI bertambah dari 14 menjadi 17, DPRD Provinsi melonjak dari 16 menjadi 19 kursi, dan 211 kursi DPRD kabupaten/kota berhasil diamankan. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa mesin partai benar-benar hidup dan bergerak.
Namun Ace bukan tipe pemimpin yang tergoda oleh kursi. Ia adalah produk dari dua dunia yang jarang berpadu secara harmonis, akademisi sekaligus politisi. Berlatar pendidikan antropologi dari Universitas Indonesia, ia terbiasa membaca masyarakat bukan dari atas panggung kampanye, melainkan dari kedalaman data dan dinamika sosial yang sesungguhnya. Cara berpikir itulah yang membedakannya dari kebanyakan politisi.
Perjalanannya di Golkar pun bukan jalan pintas. Ia merangkak dari bawah, masuk ke DPP Golkar pada 2007 setelah menempa diri di organisasi kepemudaan seperti Gerakan Pemuda Ansor dan AMPI. Kursi DPR RI pun tak langsung diraih, ia lebih dulu masuk melalui jalur pergantian antarwaktu (PAW) pada 2013, sebelum akhirnya dipercaya rakyat lewat pemilihan langsung pada 2019.
Di Komisi VIII DPR RI, ia konsisten mengawal isu-isu agama dan kesejahteraan sosial. Bukan bidang yang glamor, tetapi justru di sanalah ia membangun reputasinya sebagai politisi yang serius dan berbasis kebijakan, bukan sekadar wajah di spanduk.
Kini panggung berikutnya telah menunggunya. Kepercayaan sebagai Gubernur Lemhanas RI, lembaga strategis yang menjadi kawah candradimuka para pemimpin nasional adalah pengakuan atas rekam jejaknya yang melampaui sekadar urusan partai.
Golkar Jawa Barat kini harus berdiri di persimpangan. Fondasi yang ditinggalkan Ace memang kokoh, tetapi politik tidak pernah berjalan di atas autopilot. Siapapun yang akan mengambil tongkat estafet kepemimpinan harus siap mewarisi bukan hanya kursi, tetapi juga cara kerja yang terukur, berbasis data, dan berakar kuat hingga ke akar rumput.
Ace Hasan Syadzily memilih pergi ketika banyak orang ingin ia tetap tinggal. Dan justru di situlah letak kebesarannya.
pram/Sumber GolkarPedia









