portal kabar – Musyawarah Daerah (Musda) Tingkat II Partai Golkar Kabupaten Bekasi mulai menjadi perbincangan hangat. Sejumlah nama bermunculan ke permukaan, memancing spekulasi dan kalkulasi politik dari berbagai penjuru. Dua nama yang paling santer disebut adalah Ketua DPRD Kabupaten Bekasi, Ade Syukron Hanas, dan Plt. Bupati Bekasi, dr. Asep Surya Atmaja, keduanya digadang-gadang mampu menghentikan laju H. Akhmad Marjuki yang diperkirakan akan kembali maju mempertahankan kursinya.
Ade Syukron disebut sejumlah pengamat memiliki basis massa yang kuat, terutama di wilayah utara Kabupaten Bekasi. Posisinya sebagai Ketua DPRD dinilai cukup menjadi modal untuk memimpin partai beringin di tingkat daerah. Sementara dr. Asep, meski sempat diusung Partai Buruh dalam kontestasi Pilkada lalu, diyakini banyak kalangan belum sepenuhnya memutus tali dengan Golkar dan masih berpotensi merebut tampuk kepemimpinan partai.
Namun, dinamika itu mulai menemui titik terang. Budiarta, tokoh pergerakan kepemudaan Kabupaten Bekasi sekaligus anggota Partai Golkar, menegaskan bahwa dr. Asep telah secara resmi menyatakan diri tidak akan ikut campur dalam Musda Golkar Dati II Kabupaten Bekasi.
“dr. Asep sudah menyatakan tidak ikut cawe-cawe dalam Musda Partai Golkar Dati II Kabupaten Bekasi,” ujar Budiarta dalam pernyataan resminya, Minggu (12/4/2026).
Soal peluang Ade Syukron, Budiarta tak segan melontarkan kritik tajam. Menurutnya, hasrat saja tidak cukup untuk memimpin partai sebesar Golkar.
“Fikirkan saja dulu apa yang dia lakukan untuk partai selama ini, dan bagaimana cara dia dalam membangun komunikasi secara luas kepada kader partai lainnya. Nafsu saja gak akan cukup, ini partai besar. Privilege partai itu sangat besar dan gak gampang untuk bisa dipertahankan bila individunya kurang kompeten,” tegas Budiarta.
Di sisi lain, Dito dari Masyarakat Peduli Isu memandang kompetisi ini justru menarik untuk dicermati. Ia menilai jika banyak dari kader merasa kepemimpinan H. Akhmad Marjuki selama ini masih berjalan di tempat, tanpa visi yang cukup tajam untuk mempertahankan kebesaran Golkar di Kabupaten Bekasi. Adapun Ade Syukron, menurut Dito, masih terlalu terjebak dalam lingkaran faksinya sendiri.
Justru di sinilah, kata Dito, celah terbuka lebar bagi dr. Asep. Popularitasnya sebagai Plt. Bupati Bekasi dan posisi strategisnya hari ini dinilai menjadi modal yang sulit diabaikan, baik oleh kader maupun pengamat.
“Ini politik. Hari ini mungkin dr. Asep menampik, tapi tidak menutup kemungkinan haluannya berubah dan menjadikan Partai Golkar yang telah membesarkan dirinya untuk dia rebut kembali. Karena politik itu dinamis dan tidak selalu statis,” tutup Dito.
Musda Golkar Kabupaten Bekasi kini bukan sekadar agenda organisasi biasa. Ia telah menjelma menjadi arena pertarungan kepentingan, di mana loyalitas, ambisi, dan kalkulasi masa depan berpadu dalam satu panggung yang sama.
bram ananthaku









